Kamis, 11 Desember 2008

Meningkatkan Produktivitas Perusahaan Melalui Sistem Reward dan Punishment

Pendahuluan

Pemilihan tema ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena yang menunjukkan tingkat kehadiran karyawan yang kurang, baik pada lingkup karyawan tetap maupun karyawan kontrak. Untuk mengatasinya, perusahaan menerapkan sistem reward (Penghargaan) dan punishment (Sanksi) yang digunakan sebagai sarana untuk memotivasi karyawan dalam meningkatkan kedisiplinan, yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas.

Salah satu sistem reward yang digunakan adalah dengan mengadakan pemilihan karyawan terbaik pada bulan itu (employee of the month/ EOTM). Tidak berhenti pada periode bulanan, kegiatan ini bahkan juga diterapkan untuk periode tiga bulanan dan satu tahun. Sedangkan sistem punishment, berupa teguran lisan sampai sanksi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), diterapkan pada karyawan yang melanggar peraturan secara terus menerus.

Pengertian disiplin, terkandung dua faktor yang amat menentukan, yaitu faktor waktu dan faktor perbuatan/tindakan. Supaya disiplin tercipta dalam perusahaan, diperlukan tata tertib/aturan yang jelas, penjabaran tugas/wewenang yang jelas, dan tata caranya yang dapat dimengerti oleh semua anggota perusahaan (Anoraga, 2006).

Disiplin bekerja menjadi dua kategori (Hani Handoko, 1990), yaitu:

1. Disiplin Preventif

Sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mendorong karyawannya agar dapat mengikuti aturan standar dari perusahaan. Hal ini digunakan untuk mengantisipasi penyelewengan dalam bekerja. Misalnya peraturan mengenai jam kerja kantor dan jam istirahat/makan. Peraturan mengenai jam-jam tersebut akan mencegah karyawan datang terlambat atau mengambil waktu istirahat/makan lebih lama dari yang telah ditetapkan.

2. Disiplin Korektif

Kegiatan- kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan- aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran lebih lanjut. Oleh karena itu, menjadi suatu topik yang menarik untuk membahas kedisiplinan dan sikap kerja yang baik.

Ciri- Ciri Karyawan yang Disiplin

Karyawan yang disiplin cenderung ”dibenci” oleh rekannya karena menganggap terlalu mengabdi terhadap perusahaan, kaku, konservatif dan seringkali dianggap menjilat atasan.

Membentuk suatu sikap disiplin bukanlah hal yang mudah, apalagi dengan adanya budaya melanggar peraturan yang nyata dalam opini bahwa aturan dibuat untuk dilanggar.

Namun, sikap tidak disiplin tersebut dapat diubah. Sikap adalah orientasi seseorang pada objek yang berlangsung pada kutub negatif hingga ke kutub positif. Menurut lapisan manusia secara psikologis, sikap berada di lapisan ketiga. Sehingga masih bisa diubah dengan dibantu oleh suatu persepsi dan tingkah laku. Dengan pembelajaran dan pemberitahuan secara terus menerus, lambat laun sikap disiplin akan muncul.

Berdasarkan tinjauan bebas, ciri-ciri karyawan-karyawan yang memiliki kedisiplinan tinggi adalah :

1. Menghargai waktu

Datang sesuai jam kerja yang ditentukan serta pulang sesuai dengan jam yang telah ditentukan oleh perusahaan.

2. Menghargai pekerjaan

a. Bertanggung jawab pada pekerjaan yang diberikan

tugas yang menjadi tanggung jawabnya akan dikerjakan dengan baik tanpa mengeluh. Ia tidak membuang waktu untuk mengobrol mengenai hal-hal di luar pekerjaannya, maupun bergosip dengan karyawan lain selama jam kerja.

b. Proaktif/inisiatif

Ia dapat memberikan ide-ide baru untuk pengembangan produk atau pelayanan lainnya.

3. Menghargai perusahaan

Dapat memahami mengapa perusahaan membuat suatu kebijakan yang salah satunya mencakup masalah hak dan kewajiban karyawan. Dengan kata lain, karyawan tersebut:

a. Patuh,

b. Loyal, dan

c. Berkomitmen pada perusahaan.

Ada beberapa cara untuk meningkatkan disiplin karyawan, antara lain dengan pemberian reward gelar employee of the month, dan sistem punishment.

Beberapa contoh kriteria employee of the month di bawah ini juga dapat menjadi masukan untuk mengenali ciri-ciri karyawan yang memiliki kedisiplinan tinggi.

Kriteria Employee of the Month:

1. Tingkat kehadiran: diukur dari data absensi karyawan.

2. Sikap kerja yang positif:

- datang tepat waktu

- bersikap baik selama jam kerja, misalnya tidak merokok/makan selama kerja.

3. Memiliki nilai-nilai tambah:

- Customer Satisfaction Oriented ( Mampu melayani klien dengan baik dan ramah)

- Suggestion System (memberikan ide-ide kreatif untuk menunjang kerja)

- Quality Control System (performa yang menunjukan adanya perbaikan yang berkesinambungan)

Sedangkan contoh kriteria punishment di bawah ini dapat menunjukkan ciri-ciri karyawan yang kurang disiplin.

Kriteria punishment:

Karyawan yang melanggar peraturan perusahaan akan diberikan teguran lisan terlebih dahulu. Jika aturan-aturan tersebut masih terus dilanggar secara sengaja/tidak disengaja, maka perusahaan berhak memberikan Surat Peringatan (SP) yang dimulai dari 1 (teringan) hingga 3 (beresiko pengeluaran karyawan dengan tidak hormat dari perusahaan). Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk aplikasi untuk mewujudkan kedisiplinan dalam bekerja, sehingga bisa menciptakan budaya perusahaan yang baik dengan atmosfer kerja yang kondusif.

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kerja

Disiplin akan muncul jika seorang karyawan memiliki motivasi yang tinggi dalam bekerja. Untuk itu, harus ada hubungan kerja sama yang baik antara perusahaan dan karyawan. Perusahaan harus menyadari bahwa para karyawan adalah investasi sumber daya yang dapat meningkatkan produktivitas perusahaan. Sedangkan karyawan tentu mengharapkan kompensasi yang seimbang dengan tenaga, pikiran dan waktu yang telah dicurahkan untuk memajukan perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, penghargaan yang diberikan perusahaan terhadap karyawan sangatlah berarti. Pada beberapa perusahaan, salah satu penghargaan yang diberikan terhadap karyawan yang berprestasi adalah dengan memberikan gelar sebagai ”karyawan terbaik” yang dilaksanakan setiap bulan (employee of the month). Gelar tersebut tidak didapat dengan cuma-cuma, melainkan dengan prestasi yang dibuat oleh karyawan.

Bagaimana pun juga karyawan adalah manusia yang tak luput dari kesalahan, baik karena kelalaian maupun belum memahami peraturan perusahaan. Adapun sanksi yang diberikan oleh karyawan yang melanggar kedisiplinan dalam bekerja berupa teguran halus sampai Surat Peringatan (SP).

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan dalam bekerja antara lain:

· Motivasi atas dasar sikap saling menghargai.

· Reward yang akan diberikan, dalam hal ini gelar employee of the month.

· Sanksi/punishment

Efek dari Kedisiplinan dalam Bekerja: Stress VS Produktivitas

1. Stres

Disiplin sering kali dikonotasikan sebagai cara bekerja yang kaku. Hal ini tentunya tidak diharapkan oleh perusahaan, karena justru berdampak pada hilangnya kemampuan karyawan untuk dapat bertindak dan mengeksplorasi secara kreatif, bahkan menjurus pada stres.

Selain itu, karyawan baru yang belum terbiasa dengan atmosfer kerja tentu mengalami kendala dalam beradaptasi dengan peraturan-peraturan yang berbeda dengan yang selama ini dianutnya. Hal ini juga sangat mungkin menimbulkan stres.

Stress didefinisikan sebagai suatu tanggapan penyesuaian yang merupakan konsekuensi dari setiap tindakan, situasi atau peristiwa dilingkungan luarnya yang menetapkan tuntutan berlebihan pada seseorang (Gibson, 1996). Untuk mengatasinya, perusahaan bisa memberikan fokus perhatian pada keadaan lingkungan khusus sebagai sumber potensial dari stress (stressor). Apakah stres dirasakan atau dialami oleh karyawan khusus tergantung pada karakteristik unik yang bersifat individual.

Stress adalah suatu tanggapan nonspesifik terhadap setiap tuntutan yang dibuat pada satu organisme dan dinamakan reaksi pertahanan tiga fase yang seseorang lakukan ketika stress sebagai sindrom penyesuaian umum ( Selye, 1976).

Sindrom penyesuaian umum ini terbagi menjadi 3 (tiga) reaksi yaitu sinyal (alarm), perlawanan (resistance), dan keletihan (exhaustion).

Tahap pertama, sinyal adalah mobilisasi awal dengan badan menemui tantangan yang diberikan oleh penyebab stres, ketika penyebab stres ditemukan, otak mengirimkan suatu pesan biokimia kepada semua sistem tubuh. Pernafasan meningkat, tekanan darah naik, anak mata membesar, ketegangan otot naik. Jika penyebab stress terus aktif, sindrom ini akan memasuki ke tahap selanjutnya yaitu perlawanan.

Tahap kedua, perlawanan adalah tanda-tanda masuknya perlawanan dan mempengaruhi ke emosi seseorang seperti selalu merasa letih, takut, cemas dan selalu menghadapi segala sesuatu dengan ketegangan. Dan dapat mempengaruhi kesehatan secara fisik sehingga menyebabkan sakit. Jika tahap kedua masih belum dapat diatasi maka selanjutnya ke tahap ketiga yaitu keletihan.

Seorang karyawan tidak mampu melawan/menghadapi stres untuk jangka waktu yang cukup panjang dan terus menerus mengakibatkan menaikkan penggunaan energi penyesuaian yang bisa diapai, dan sistem menyerang penyebab stres sehingga menjadi letih.

Bagaimanakah perusahaan dapat menyikapi masalah disiplin dengan stres? Perlu dijelaskan dari esensi kerja itu sendiri terhadap para karyawannnya. Kerja bukanlah sekedar melakukan tugas kantor selama 40 jam per minggunya, tetapi juga aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan kepuasan mereka, identitas dalam pekerjaan mereka. Menurut Maslow mengenai hirarki kebutuhan sebagai peningkat motivasi, seorang individu memiliki kebutuhan agar dapat mengaktualisasikan dirinya dilingkungan.

2. Produktivitas

Bila disiplin kerja diterapkan secara tepat dan profesional dan sesuai kondisi, disiplin tentu takkan membawa karyawan pada stres. Sebaliknya, sikap kerja yang disiplin akan membuat karyawan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan dengan hasil maksimal, sehingga karyawan tidak merasa diburu target. Efeknya terhadap perusahaan tentu adalah meningkatnya produktivitas.

Produktivitas adalah sebuah konsep efisiensi yang menjelaskan rasio hasil kerja relatif terhadap usaha yang dilakukan (Bartol, & Martin, 1998). Banyak orang berpendapat bahwa produktivitas kerja adalah mendapatkan hasil yang lebih banyak, dengan cara meningkatkan usaha yang sebanyak-banyaknya pula. Namun arti produktivitas yang sebenarnya adalah mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya, berkualitas lebih baik, dengan usaha yang sama. Konsep efisiensi ini dapat diwujudkan, salah satunya dengan sikap kerja karyawan yang disiplin (Anoraga, 2006).

Daftar Pustaka

  • Anoraga, Pandji, S.E., M.M. (2006). Psikologi kerja. Jakarta: Rineka Cipta.

  • Bartol, Kathryn M., & Martin, David C. (1998). Management. New York: McGraw-Hill.

  • Gibson, L. J., Ivancevich, M. J., & Donelly, H.J. (1996). Organisasi. In Saputra, L (Ed). Jakarta : Binarupa Aksara.

  • Selye, H. (1976). The stress of life. New york : Mcgraw- Hill
Ditulis oleh:
Amalia, Dina Iguna, Yohanna

2 komentar:

  1. Thanks...sangat bermanfaat...

    BalasHapus
  2. Trims masukan'nya tetapi tetap tidak mudah karena tiap individu memiliki permasalahan yang beraneka macam rupa dan kondisinya. Dan terkadang agak 'tricky'.

    BalasHapus